Asal Mula Puisi-Versi TS Pinang : Sebuah wawancara

Asal Mula Puisi-Versi TS Pinang : Sebuah wawancara

Tulisan saya pada postingan pertama mengenai Asal Mula Puisi-Versi Sony DeBono, rupanya menggelitik TS Pinang atau yang lebih akrab disapa Mbah Mardjuki untuk sekedar melongok ke gubuk saya. Dan bagi saya itu merupakan kesempatan yang bagus untuk memanggil Mbah Mardjuki, membangunkan dari “pertapaan”. Berikut wawancara singkat diskusi perklenikan kami.

Nisa : NA >> Penanya

TS Pinang : TSP >> Penyair yang berbagai tulisan dan sajaknya telah dimuat di berbagai media >> Narasumber

NA: Malam Om TSP. Terimakasih kunjungannya di gubuk saya Om

TSP: Malammmm

NA: Saya mau bikin sekuelnya Om. Dari wawancara yang pernah saya lakukan dengan PakLik Sony DeBono. Tanggapan Om TSP, tentang pertanyaan yang sama.

TSP: Pertanyaannya apa ya?

NA: Mau tanya Om, sebenarnya puisi itu kan tidak tiba-tiba muncul jadi, nah kalau menurut Om sendiri asalnya puisi dari mana Om?

TSP: Asalnya puisi itu dari alam gaib (ini serius).

NA: Hoo iya Om. Alam gaib nya itu gambarannya bagaimana Om? Bisa dijelaskan lebih lanjut Om?

TSP: Kalau menurut alur Cak Bono itu, kan ada yang dinamakan “sublimasi” dari jiwa dalam, terus ada yang asal-asalan, ada yang spontan atau emosional. Gampangnya kan sublimasi ada proses perenungan yang dalam tentang ’sesuatu’, lalu dicarikan wadah atau bentuknya yang sesuai; asal-asalan diperoleh dengan asal comot kata; spontan diperoleh dari ‘ledakan’ emosi.

Tapi, kadang-kadang ternyata bisa juga, setelah menggali habis-habisan jiwa dalamnya, ternyata hasilnya tampak “asal”. Pancingan kata yang asal-asalan tapi hasilnya bisa saja “dalam” dan kuat. Ledakan emosi (impulsif) bisa juga hasilnya “dalam”. Nah, apa yang bikin “anomali-anomali” itu? Hal ini dikarenakan pendekatan Cak Bono itu lebih didasarkan pada pola pikir beliau sebagai akademisi. Anomali yang menyatakan bahwa, tiga alasan hadirnya puisi (sublimasi atau asal atau spontan) tadi tidak selalu berbanding lurus dengan “produk”. Hal ini berarti tiga alasan tadi bukan faktor yang menjamin produknya juga begitu. Mungkin ada faktor lain…

NA: Contohnya om? Faktor apa saja Om?

TSP: Misalnya seorang penyair ber-PENGALAMAN diberi tiga kata asal-asalan, bisa saja dia bikin sajak dalam waktu 5 menit namun tetap saja sajak itu “matang” dan kuat.

NA: Kematangan yak Om?

TSP: Konon SCB (red. Sutardji Calzoum Bachri) pernah “mendemonstrasikan” itu, menulis sajak “spontan” di hadapan beberapa penyair muda (kalau tidak salah ingat aku dengar cerita ini dari Nanang Suryadi).

Tiga alasan model Cak Bono tadi betul, tapi juga ada “kondisi” kapan dan di mana (atau kepada siapa) tiga alasan tadi datang. Bagi SCB, asal-asalan (atau “pancingan2 teknis”), spontan (emosional impulsif) bisa saja sudah otomatis lebur dalam “alam dalam”

NA: Alam dalam itu yang seperti bagaimana Om?

TSP: Alam dalam, jiwa, psike, yaitu interior diri kita. Sebenarnya emosi itu masuk ke sana. Tapi yang dimaksud “spontan” tadi adalah ketika emosi itu langsung direspon secara reaksioner, tanpa “dimasukkan” dulu utk dikelola. Alur semestinya adalah, emosi masuk, dikelola sehingga menghasilkan wisdom.

Sedangkan pancingan-pancingan teknis, contohnya adalah “arisan kata” yang dilakukan si Benz (red. nick member Kemudian.com) dengan pancingan 10 kata untuk dibuat sajak, itu bisa saja dikelola sebagai simbol. Walaupun, resiko asal-asalan atau maksa-nya memang sangat besar, memaksakan kata yang sebenarnya tidak diharapkan hadir dalam sajak, tapi harus dipakai. Hal itu beresiko terjadinya sajak asal-asalan tadi.

Tetapi bagi yang memiliki kepekaan semiotik (:menafsir simbol), akan bisa membawa kata yang ‘dipaksakan’ tadi ke asosiasi makna yang lebih luas dan mungkin saja akan mampu membentuk sebuah sajak yang kuat. Jadi, kematangan seorang penyair itu memang penting juga.

NA: Waduhh… akan sulit sekali ya Om untuk pemula seperti saya yang harus tiba-tiba punya kematangan?

TSP: Kematangan memang tidak mungkin diperoleh tiba-tiba kan? Itu namanya karbitan. Rasanya pasti masih kecut. Walaupun sudah kuning dan empuk. Saya bilang, puisi itu jalan panjang.

TEKNIK memang bisa cepat dipelajari. Teknik itu soal kecanggihan bentuk, mengotak-atik kata, memanipulasinya hingga membuat efek tertentu kemudian. Tetapi, mencapai kematangan ISI tidak semudah mencapai kematangan teknik. Walaupun kamu mengolah suatu tema, merenungkannya, mencari referensi ilmiahnya kalau perlu, bisa saja hasilnya tetap “mentah”, karena mungkin pengalaman batinmu utk mengolah itu masih mentah.

NA: Pantesan ilmu gaib ya Om. Sebuah puisi dikatakan matang isi dan matang bentuk itu puisi yang bagaimana Om?

TSP: Sebuah puisi dikatakan matang isi dan matang bentuk itu puisi yang bagaimana? Kalau sekedar MENGATAKAN sebuah puisi itu matang bentuk atau isi itu mudah sekali

tetapi hasilnya adalah sebuah penilaian yang SUBJEKTIF, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Oleh sebab itu tergantung juga pada “kematangan” pembaca atau komentator. Tetapi itu bukanlah cara penilaian yang “benar” untuk sebuah karya. Penilaiannya sangat personal dan sangat tergantung pula pada “selera” si penilai. sebuah karya harusnya dinilai dengan alat bedah berupa TEORI.

Teori-teori ini bisa berbagai macam, entah psikoanalisis, entah pascakolonial, pascamodern, dan lain-lain. Biasanya teori estetika sastra itu mengikuti perkembangan ilmu filsafat. Tapi ini adalah wilayah AKADEMIS, wilayah para sarjana sastra atau kritikus. Seorang kreator tidak wajib mengetahui teori-teori kritik sastra itu, walaupun boleh mempelajarinya. tetapi wilayah kritik ini TIDAK BOLEH dilakukan oleh sembarang orang. Saya tidak akan menulis sebuah kritik sastra karena pengetahuan saya akan teori tidak cukup

Paling banter saya hanya bisa menulis KOMENTAR subjektif, yang sifatnya personal dan berdasarkan selera tadi. dan komentar seperti itu tidak bisa dipandang sebagai sebuah ukuran baik atau buruknya sebuah karya.

NA: Hmmmm… menarik. Kajian bukan hanya dari teori tapi jg kesan personal.

TSP: Kritik sastra juga mengandung subjektivitas, tetapi lebih minimal kadarnya. Karena bisa saja satu karya ketika dibedah dengan teori A dibilang kuat, tetapi dengan teori B dikatakan lemah. Jadi, tergantung teori yang dipakai dan itu bisa diperdebatkan secara ilmiah, karena ada acuan teorinya.

Tetapi komentar subjektif, tidak dapat diperdebatkan secara ilmiah, sains tidak bisa diperdebatkan dengan dasar subjektivitas. Jadinya nanti pasti hanya “debat kusir”. Nah, kritik ilmiah inilah yang belum menjadi tradisi dalam sastra Indonesia. Paling cuma di ruang sidang skripsi mahaswa sastra saja

NA: Wah seperti itu ya om?

TSP: Esei di media cetak kebanyakan hanya “resensi” yang kadarnya subjektif tadi, belum ilmiah. Paling-paling hanya “pseudo ilmiah”.

NA: Om boleh kembali ke topik awal om? Kalau boleh memberi sedikit petuah ala Mbah Mardjuki, yang namanya makhluk “puisi” itu munculnya dari…

TSP: Alam gaib. Nah, kita kan belum masuk ke alam gaibnya

NA : Nah itu omm. alam gaibnya itu seberapa gaibnya om?

TSP: Nah, kalau kita ‘merenung’kan sebuah topik calon sajak kita. Atau bisa juga sebelumnya tidak diniatkan sebagai sajak, hanya layak direnungkan saja. Kita bisa menggunakan 2 alat

1. olah pikir (logika, bekal kognitif atau database informasi)

2. olah batin

Nah, pada praktiknya kadang-kadang ada kata atau frasa atau kalimat yang begitu kuat atau mendesak untuk dituliskan atau teringat berulang-ulang. Nah, ini muncul dari bawah sadar (–>Sigmund Freud)

Olah batin ini sebenarnya melatih kepekaan utk mengakses bawah sadar tadi “secara sadar”, dan saya kira entah dengan latihan (dilakukan scr sadar) atau alami, kemampuan ini akan berkembang seiring jam terbang. Sehingga ketika “merenung” itu, ada interaksi intens antara logika dan intuisi, antara alam pikir sadar dan bawah sadar

NA: Olah batin ini bentuknya seperti bagaimana Om?

TSP: Saat kita sedang mendalami suatu topik, merenung, itu sebenarnya kita sedang melakukan olah pikir dan olah batin secara bersamaan. Hanya saja kebanyakan, terutama pemula, orang melakukannya tanpa disadari. Sehingga kadang-kadang ‘intuisi’ itu kalah sehingga logika lebih dominan, hasilnya sajak akan terasa “kering”, berorientasi pada kecanggihan bentuk saja. Atau kalau intuisi yang dominan, hasilnya sajak terasa ‘gelap’. Idealnya intuisi dan logika itu dilibatkan secara proporsional

NA: Ada faktor lainkah om?

TSP: Ada, yaitu wawasan yang luas.

Penyair, juga penulis prosa, wajib membaca berbagai wacana. Tak hanya sastra. Saya kira, seorang sastrawan itu adalah seorang perangkum peradaban. Semakin sempit wawasannya, semakin sempit pula lingkup peradaban yang dirangkumnya

NA: Hmmmm. Kematangan, olah pikir dan olah batin (intuisi& logika), wawasan, teori

Apakah bisa disimpulkan seperti ini Mbah, sebagai hal-hal yang memunculkan “kegaib’an” puisi?

TSP: Yup.

Sebenarnya ada satu lagi, tapi ini sudah masuk wilayah klenik, jadi tidak bertanggungjawab rasanya kalau saya sampaikan di sini

NA: Hoo sejauh klenik apa itu Om? Boleh tahu g?

TSP: Tidak, ini bisa mengundang syaiton bagi yang belum mandi kembang

NA: Ada-ada saja nih mbah.

NA: Mbah sebelum menutup diskusi perklenikan kita (sekarng bukan weton kliwon kan yak?), ada yang ingin dibagi lagi mbah mantra-mantranya?

TSP: Penyair harus menjadi pohon. Pohon itu jagonya meditasi diam, menyerap roh bumi dan langit, dan menyebarkan energi positif ke sekitarnya

NA: Dengan bahasa manusianya mbah?

TSP: Itu simbol, silakan ditafsir sendiri

NA: Hooo. Baik, Mbah. Maturnuwun Mbahh…Parenggg

Dan TS Pinang alias Mbah Mardjuki, kembali melanjutkan “pertapaan” beliau.

Salamm…

Sebuah Sudut Menara Penanda

Di setiap jam yang kutemui selalu ada jarum,
yang menancap di tiap putaran
Jejak jarum mengitar di alur yang sama

Kadang menunjuk langit tengadah
saat masuk lepas fajar,
kadang menunjuk bumi pada periode sama pula.
Kadang kukenal sudut-sudut tengaranya
kemudian pupus saat ingatan paksa ganti yang lain.

Mungkin ada sesuatu yang kau titipkan
di ujung-ujung menara jam
besar yang terpasang di sudut kota.

Gerangan itu?
Mungkin sengaja kau titipkan di situ sebagai penanda.
Akankah kita bertemu di sudut jam yang sama?
: Rindu

Sby, 301108

Tentang Tukang Contek

siapa yang pernah jadi pencuri…

“pencuri” karya orang lain maksudnya…

bagaimana cara mengatasinya? Untuk tahu lebih jelas tinjauan mengenai apa, dan bagaimana seluk beluk tindakan plagiasi, silakan klik link di bawah ini.

plagiat

WordPress Themes